“When you take my soul, don’t take my pride.”
Kalimat itu merupakan modifikasi dari penggalan lirik asli lagu band Oasis berjudul “Cast No Shadow” yang dinyanyikan Liam Gallagher sang vokalis dalam beberapa konser live – sesuatu yang terdengar personal.
Pride dan ego. Dua hal yang pada dasarnya melekat dan dimiliki manusia (lama). Namun, dalam perkembangannya, semua kembali kepada masing-masing pribadi. Apakah ingin memberi makan dan membiarkan kedua hal tersebut menguasai diri, atau justru sebaliknya menekan keduanya hingga titik terendah dan menjadi manusia baru.
Penulis pernah memiliki cukup waktu untuk merenung dan menetapkan prinsip berdasarkan intake yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti cerita pengalaman orang lain, nasehat-nasehat dan yang paling mutlak yaitu salah satu ayat pada Perjanjian Baru di kitab suci. Prinsip itu adalah: kasih tidak mengenal pride dan tidak menjunjung ego pribadi. Menjadi manusia baru berarti bahwa seseorang telah menanggalkan dan melepaskan segala perangkat yang melekat pada manusia lama, termasuk pride dan ego. Maka sejak itu penulis berusaha untuk tidak menghiraukan pride dan ego pribadi setiap kali berurusan dengan siapapun.
“Kamu punya pride untuk dijaga, tidak bisa diusik siapapun”, kata sejawat. Pride yang dimaksud mencakup hal yang dipandang penting dan mendasar bagi seseorang – sesuatu yang dipilih dan dianggap berharga dan tidak boleh disepelekan oleh siapapun. Sepengamatan penulis, pride merupakan hal yang teramat sensitif terutama bagi pria. Sekali mengusik pride seorang pria, ia akan balik melawan atau meninggalkan orang yang mengusiknya. Tanpa sadar, hal itu sempat terjadi dan membuka celah dan memberi makan pada pride dan ego pribadi di saat yang bersamaan. Maka ketika ada orang yang dirasa mengusik pride tersebut dengan mempertanyakan dan menyepelekan pilihan yang diambil, kekacauan pun tak bisa dihindari. Prinsip awal penulis memudar.
It’s like you’re losing yourself. Deep inside, you know that this is not you and you can’t resist it. Deep inside, you know something goes wrong.
Beruntung satu sobat menyadarkan penulis kembali. Menegakkan kembali prinsip yang sempat bengkok. Membantu penulis menemukan kembali jati diri yang sempat hilang arah dan memudar. Sebuah perbincangan singkat namun membangun. Jika disarikan kira-kira begini jadinya:
- Pride adalah kekejian. Begitu pun ego. Kedua hal itu termasuk deadly sins.
- Inti ajaran Injil adalah kasih. Kasih melingkupi segala hal, mengalahkan segala ketidakbenaran. Kasih melenyapkan pride, mengenyahkan ego.
- Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud (1 Korintus 13:4).
- Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Selama kita menabur kasih kepada siapa pun, kapan pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun, maka kasih yang kita tuai. Selama kita memiliki dan menabur kasih, tenang dan damai sejahtera hidup yang kita jalani.
- Tak peduli sekeras apa pun hati, pemikiran, watak, karakter maupun sifat seseorang, sepelik apapun kondisi kelihatannya dan terlepas dari kekurangan yang dimilikinya dan kesalahan yang pernah dilakukannya pada kita, jika kita benar mengasihi orang itu, ia akan luluh juga pada akhirnya. Batu yang keras pun dapat terkikis saat terus menerus disirami air.
- Kasih merupakan kekuatan yang melampaui daya manusia, yang memberikan pengharapan yang baik dan benar akan hari esok, dan yang menopang manusia bahkan dalam lembah kekelaman sekalipun. Kasih mengusir segala emosi negatif yang mengganggu, segala pikiran yang menyimpang dan tidak sesuai kebenaran. Dalam kasih, ada kebenaran. Dalam kasih ada kekuatan. Dalam kasih, hari esok lebih baik. Sungguh, dalam kasih, harapan selalu ada.
Dalam sekejap, cara penulis melihat segala hal berubah. Tidak ada gunanya mempertahankan pride dan ego. Sia-sia belaka, buang-buang waktu, menjaring angin. Lalu kebingungan sirna. Kekuatiran, ketakutan, kegelisahan dan insecurity lenyap. Semuanya kembali jelas dan cerah seperti diterangi matahari yang baru – un nouveau soleil. Menemukan kembali jati diri, prinsip diri yang bersumber dari kebenaran sejati. Kembali teringat: Iman, Pengharapan dan Kasih, yang terbesar dari ketiganya adalah Kasih.
Toh, pada akhirnya Liam Gallagher pun sadar. Mempertahankan pride adalah kekeliruan, hanya memicu konflik karena berkeras dengan ego. Dalam lagu For What It’s Worth, ia menyampaikan permohonan maaf secara gamblang melalui penggalan liriknya:
“Let’s leave the past behind with all our sorrows
I’ll build a bridge between us and I’ll swallow my pride
For what it’s worth, I’m sorry for the hurt. I’ll be the first to say, I made my own mistakes”
Penulis selalu percaya, kebenaran dan kasih membuat kita bertahan hingga akhir, memenangkan kita dan mengalahkan segala ketidakbenaran.
Terima kasih Tuhan.
Terima kasih sobat.
“I once was lost, but now I’m found”
Amazing Grace (Christian Hymn)

One thought on “Un Nouveau Soleil”