Jakarta, 9 April 2020
Sebagai awalan, kesamaan dari seri tulisan dengan judul yang jika diterjemahkan berarti Matahari Baru ini yaitu topik utama yang berkisar antara iman, pengharapan dan kasih, namun dengan cerita ataupun ulasan yang berbeda. Seri tulisan singkat ini merupakan tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya dan terbentuk tanpa disengaja. Sebab, untuk dapat mengerti dan melakukan sesuatu hal perlu proses belajar dan praktik tidak hanya sekali atau dua, melainkan bahkan hingga seumur hidup. Mungkin seri tulisan ini dapat dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran dan praktik dari inti ajaran dalam kitab suci kepercayaan penulis, Injil, yaitu: kasih.
Selama sekitar dua bulan belakangan terhitung sejak tulisan ini dipublikasi, banyak kejadian, bacaan, maupun sumber-sumber lainnya yang mendorong kontemplasi. Setidaknya, ada dua hal penting yang dapat dirangkum dan dipelajari dari semua intake tersebut, yaitu kasih tidak menuntut, serta taburan kebaikan dan kebenaran menghasilkan tuaian yang sama sekali tidak merugikan.
Hal penting pertama: kasih tidak menuntut. Kalimat sederhana namun berarti mendalam untuk dilakukan dan luas untuk dimengerti. Untuk (dan semoga dapat) mempermudah penjelasan, dapat menggunakan pendekatan (jika terbiasa menggunakan akal budi) ex ante dan ex post, sebelum dan sesudah kejadian. Dalam konteks ex ante, kasih tidak menuntut kondisi, situasi, syarat, ekspektasi, timbal balik, pamrih dalam bentuk apapun. Jika masih berandai, seperti misalnya “kalau kondisinya begini, pemikirannya seperti ini, fisiknya seperti itu dan sifatnya begitu, baru kita bisa mengasihi orang itu (terutama pasangan dan/atau orang terdekat)”, sebaiknya introspeksi dan evaluasi diri kembali karena hal tersebut belum mencerminkan kasih sepenuhnya, kasih yang tulus dan murni. Bahkan mungkin jika orang itu memenuhi kriteria yang dibuat, jika memang sumber masalahnya adalah belum adanya kasih sepenuhnya, seseorang bisa tetap tidak puas dan terus mencari, padahal dia tahu yang semestinya dia ubah adalah sikap hatinya untuk mau mengasihi tanpa menuntut. Perlu dicatat, jika kaitannya dengan pasangan yang belum sampai mengikat janji sehidup semati, asumsi berlaku untuk contoh di atas yaitu pasangan yang memang “jodoh” dari Tuhan. Pada akhirnya, semua akan menemukan jalannya jika memang berjodoh dan harus terjadi.
Seiring bertambahnya umur, hubungan semakin ibarat berdagang. Transaksional.
Kira-kira demikian tulisan salah satu cuitan di Twitter yang tanpa sengaja muncul di timeline penulis tepat sehari sebelum tulisan ini dibuat. Menurut hemat penulis, kalimat itu mencerminkan kondisi realita yang terjadi dalam konteks sosial, dan mungkin ada benarnya untuk ditindaklanjuti dengan sikap yang benar pula. Lakukan sesuatu yang baik atau menyenangkan bagi pihak lain karena memang telah ada kesepakatan sebelumnya, sudah memiliki tujuan awal. Hal ini lumrah dilakukan dalam konteks profesional, bisnis. Namun, jika kondisi serupa terjadi dalam hubungan, terutama dalam konteks pasangan, agaknya hal ini menjadi keliru. Dalam perspektif penulis, dengan pendekatan ex post, ketika kita baru dapat mengasihi setelah adanya konsensus, tidaklah menunjukkan kasih yang sesungguhnya. Perkara kasih tidaklah sama dengan bisnis. Pun jika ingin dipaksakan mencari kesamaan diantara keduanya mungkin yaitu bahwa ada risiko didalamnya. Kembali teringat salah satu kutipan dari film Love for Sale dengan sedikit penyesuaian, “Mencintai (mengasihi) adalah pekerjaan yang berat dan penuh risiko karena selalu melibatkan perasaan. Tapi, kukira, mengambil risiko tak pernah ada salahnya.”
Selain itu, bisa mengasihi orang yang memang mengasihi atau terlebih dulu mengasihi kita, bukankah hal yang selazimnya terjadi? Sebaliknya, tanpa perlu adanya konsensus tertentu, kasih yang tulus dapat mewujud seperti naluri atau insting untuk dengan segera dan dengan kerelaan hati menolong dan mendukung ketika orang sekitar, terutama terdekat kita, membutuhkan. Seumpama lilin sangat berguna dalam menerangi ketika tidak ada sumber terang di sekitar, bukan pada waktu siang hari ketika terang melimpah. Lebih jauh, bahkan kita diminta untuk mengasihi musuh dan orang yang menganiaya kita – dalam berbagai konteks. Hal sulit, mungkin bagi sebagian orang, tapi tidak mungkin tidak bisa dilakukan. Semua kembali kepada keterbukaan dan sikap hati masing-masing orang untuk mau “berdamai”. Kata terakhir ini menjadi penghubung pada hal penting kedua yang penulis dapatkan.
Hal penting kedua: tabur kasih, kebaikan dan kebenaran. Taburlah itu siang dan malam, karena kita tidak tahu taburan mana yang akan kita tuai, namun satu hal pasti yaitu tuaian kasih, kebaikan dan kebenaran yang kita dapatkan. Tindakan, tutur dan perilaku yang dilandasi niat dan sikap hati yang baik dan tulus pada akhirnya selalu mendapat lindungan, bahkan ketika kita tidak menyadari adanya ancaman akibat hal tersebut. At the end of the day, everything will be in its right place, with or without us knowing the way it happens. Itulah pengharapan yang dimiliki manusia dalam menjalani kehidupan, yang mendorong dan memampukan kita untuk senantiasa mengasihi dan mewujudkan kebaikan dan kebenaran dalam segala kondisi. Disamping itu, perlu untuk dicatat dan dilakukan yaitu bahwa niatan tulus harus dibarengi dengan hikmat dan akal budi, sehingga niat baik tidak dimanfaatkan secara tidak benar. Sehingga kebaikan tidak hanya kebaikan, tapi juga kebenaran. Sebab yang baik belum tentu benar, tapi yang benar pasti baik, atau akan mendatangkan kebaikan.
“Berdamai” yang disebutkan pada poin hal penting pertama pun tercakup dalam subpoin dari hal penting ini. Berdamai, pada diri sendiri, pun pada keadaan di luar kendali kita. Manusia memang terbatas, dalam hal ruang dan waktu, dalam hal kekuatan, dan lain sebagainya. Terlalu banyak ingin untuk mengontrol pada akhirnya dapat meruntuhkan apa yang telah dibangun, melalui kebimbangan, kekuatiran dan lain sebagainya yang membuat lupa untuk menikmati hidup sebagaimana mestinya. Berjaga-jaga dan waspada harus, tapi bukan berarti bahwa kita pemegang kendali sepenuhnya atas hidup kita. Sebegitu tidak berkuasanya manusia atas kejadian dalam kehidupan semestinya membuat kita semakin bersyukur dan menjalani kehidupan yang sejatinya adalah kesempatan dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Lagi-lagi di sini pentingnya memiliki kasih serta pengharapan yang baik dan benar, cara pandang yang dapat diambil untuk tetap bertahan pada prinsip kebenaran dan keyakinan di tengah ketidakpastian kehidupan dunia. Kembali lagi pada bagaimana tiap pribadi menyikapinya dengan keterbukaan hati dan kepekaan dalam memaknai setiap kejadian dalam hidup.
Sebagai penutup, hal penting pertama dalam tulisan ini mengingatkan kembali pada penggalan lirik salah satu lagu Linkin Park dengan judul The Messenger:
When life leaves us blind, love keeps us kind
Dan hal penting kedua mengingatkan kembali pada penggalan lirik salah satu lagu band Oasis berjudul The Masterplan:
Please brother take a chance
You know they’re gonna go
Which way they wanna go
All we know is that we don’t know
How it’s gonna be
Please brother let it be
Life on the other hand
Won’t make us understand
We’re all part of a masterplan